Keamanan SATUSEHAT: Data Kesehatan menurut UU PDP
Keamanan SATUSEHAT adalah upaya melindungi setiap koneksi API, pertukaran data, dan integrasi sistem yang terhubung ke SATUSEHAT, platform pertukaran data kesehatan nasional Indonesia. Sektor kesehatan Indonesia makin terhubung. Rumah sakit, klinik, perusahaan healthtech, laboratorium, apotek, dan perusahaan farmasi kini bertukar lebih banyak data lewat platform digital. Tujuannya agar perawatan pasien lebih baik dan layanan kesehatan lebih efisien.
Di pusat perubahan ini ada SATUSEHAT. Platform ini memungkinkan penyedia layanan kesehatan dan pelaku ekosistem lain bertukar informasi kesehatan lewat sistem digital yang terstandar. Dengan begitu, SATUSEHAT membantu membangun ekosistem kesehatan yang lebih terhubung.
Namun, makin tinggi interoperabilitas, makin besar pula tanggung jawab keamanan sibernya.
Setiap koneksi API, pertukaran data, dan integrasi sistem membuka jalur baru tempat informasi kesehatan yang sensitif bisa diakses, diubah, atau terekspos. Bagi organisasi yang menangani data pasien, melindungi jalur-jalur ini bukan hanya prioritas keamanan siber. Ini juga kewajiban pelindungan data menurut UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
Tantangannya jelas: bagaimana organisasi bisa terintegrasi dengan SATUSEHAT sambil tetap menjaga keamanan data kesehatan yang sensitif?
Apa itu SATUSEHAT?
SATUSEHAT adalah platform pertukaran data kesehatan nasional Indonesia. Platform ini dikembangkan untuk menghubungkan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan pemangku kepentingan lain lewat sistem informasi kesehatan yang interoperabel.
Platform ini bertujuan memperbaiki cara informasi kesehatan dipertukarkan di seluruh ekosistem kesehatan, sehingga data yang relevan bisa berpindah antarsistem dengan cara yang lebih terstandar.
Bagi rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan, ini bisa mendukung alur layanan pasien yang lebih terhubung. Bagi perusahaan healthtech, ini membuka peluang membangun layanan yang berjalan di ekosistem kesehatan yang lebih luas. Perusahaan farmasi dan organisasi lain juga bisa mendapat manfaat dari konektivitas data yang lebih baik, kalau kegiatannya melibatkan informasi kesehatan.
Namun, interoperabilitas berarti keamanan tidak bisa lagi dikelola di dalam batas satu organisasi saja. Satu kerentanan di satu sistem yang terhubung bisa menimbulkan risiko bagi sistem dan organisasi lain di ekosistem yang sama.
Mengapa integrasi SATUSEHAT memunculkan risiko keamanan baru
Terhubung ke platform data kesehatan nasional membawa sejumlah pertimbangan keamanan. Organisasi harus menanganinya sebelum dan selama integrasi berjalan.
Pertukaran data makin banyak
Informasi kesehatan bisa berpindah di antara banyak sistem, aplikasi, dan organisasi. Setiap perpindahan menuntut autentikasi yang kuat, enkripsi, kontrol akses, dan pemantauan.
Data kesehatan yang sensitif
Informasi kesehatan sangat sensitif dan bisa menimbulkan kerugian serius kalau terekspos atau disalahgunakan. Menurut UU PDP, Data Pribadi yang bersifat spesifik mencakup informasi kesehatan. Artinya, organisasi yang menanganinya butuh pengamanan yang lebih kuat.
Ketergantungan pada API
API memungkinkan sistem saling berkomunikasi. Kalau tidak diamankan dengan baik, API justru bisa membocorkan informasi sensitif atau membuka jalan bagi pengguna tanpa izin untuk berinteraksi dengan sistem backend.
Banyak pihak ketiga
Ekosistem kesehatan sering melibatkan rumah sakit, penyedia teknologi, laboratorium, perusahaan asuransi, perusahaan farmasi, dan mitra lain. Setiap koneksi bisa menambah risiko keamanan dan privasi.
Tanggung jawab bersama
Organisasi tidak bisa menganggap keamanan sepenuhnya diurus oleh platform tempat mereka terhubung. Setiap organisasi tetap bertanggung jawab mengamankan sistem, kredensial, endpoint, dan aktivitas pemrosesan datanya sendiri.
Melindungi data pasien di seluruh ekosistem SATUSEHAT
Keamanan perlu diperhitungkan di sepanjang siklus hidup data, mulai dari pengumpulan, pengiriman, pemrosesan, penyimpanan, sampai penghapusan.
Amankan API sejak awal
Keamanan API sebaiknya dirancang sebagai bagian dari arsitektur integrasi, bukan ditambahkan setelah deployment.
Gunakan mekanisme autentikasi dan otorisasi yang kuat, validasi request, batasi jumlah request (rate limiting), dan pantau aktivitas API. Akses juga harus dibatasi hanya pada data dan fungsi yang dibutuhkan masing-masing aplikasi atau pengguna.
Terapkan kontrol identitas dan akses yang kuat
Tidak semua karyawan, aplikasi, atau pihak ketiga perlu mengakses informasi kesehatan yang sama.
Terapkan kontrol akses berbasis peran atau atribut dan ikuti prinsip hak akses minimum (least privilege). Service account dan koneksi machine-to-machine juga butuh hak akses yang jelas dan siklus hidup yang dikelola.
Enkripsi data saat dikirim dan saat disimpan
Lindungi informasi kesehatan yang sensitif saat berpindah antarsistem dan saat disimpan. Enkripsi membantu mengurangi dampak akses tanpa izin, terutama saat data melintasi jaringan atau disimpan di lingkungan cloud.
Pantau akses data
Organisasi perlu tahu siapa saja yang mengakses informasi pasien, sistem mana yang mengirim request API, dan apakah aktivitasnya tampak tidak biasa. Logging terpusat dan pemantauan berkelanjutan bisa membantu mendeteksi perilaku mencurigakan, misalnya pola akses yang tidak biasa, request data berlebihan, atau kredensial yang sudah bocor.
Batasi data yang Anda bagikan
Interoperabilitas tidak berarti setiap sistem yang terhubung boleh mengakses semuanya. Organisasi sebaiknya hanya mengumpulkan, memproses, dan bertukar data yang diperlukan untuk tujuan tertentu. Minimalisasi data mengurangi paparan dan membatasi dampak yang bisa timbul dari insiden keamanan.
Mengamankan API kesehatan dari akses tanpa izin
API memegang peran penting dalam interoperabilitas layanan kesehatan modern, tetapi juga sering menjadi attack surface.
Arsitektur API yang aman perlu mencakup beberapa area berikut.
- Autentikasi: verifikasi identitas pengguna, aplikasi, dan sistem yang mengirim request API.
- Otorisasi: pastikan pengguna dan aplikasi yang sudah terautentikasi hanya bisa mengakses resource yang memang boleh mereka pakai.
- Validasi input: validasi setiap request API agar data berbahaya atau tak terduga tidak sampai ke sistem backend.
- Rate limiting: batasi request berlebihan yang bisa menandakan penyalahgunaan atau serangan otomatis.
- Enkripsi: lindungi informasi kesehatan yang sensitif saat berpindah antarsistem.
- Logging dan pemantauan: catat aktivitas API dan deteksi pola akses yang tidak biasa.
- Pengelolaan kredensial: lindungi API key, token, dan kredensial layanan di sepanjang siklus hidupnya.
Selain itu, tim keamanan sebaiknya menguji API secara rutin untuk mencari kerentanan. Sistem bisa tampak aman saat dikembangkan, tetapi kelemahannya baru terlihat setelah terintegrasi dengan sistem eksternal dan aliran data sungguhan.
SATUSEHAT dan UU PDP: yang perlu diperhatikan organisasi
Integrasi SATUSEHAT juga harus dilihat dalam kerangka pelindungan data Indonesia yang lebih luas. Menurut UU PDP, informasi kesehatan termasuk Data Pribadi yang bersifat spesifik. Organisasi yang memproses informasi ini perlu memikirkan cara mereka mengumpulkan, memakai, menyimpan, membagikan, dan melindunginya.
Beberapa ketentuan berikut sangat relevan bagi organisasi kesehatan dan penyedia teknologi.
Tetapkan tata kelola data yang jelas
Organisasi harus memahami data apa yang mereka proses, untuk apa data itu diproses, tempat data disimpan, dan siapa yang bisa mengaksesnya. Kepemilikan data dan akuntabilitas yang jelas sangat penting saat informasi berpindah di antara banyak sistem dan organisasi.
Kaji risiko privasi
Menurut UU PDP, pemrosesan berisiko tinggi bisa mewajibkan DPIA (penilaian dampak Pelindungan Data Pribadi). Organisasi sebaiknya menilai apakah aktivitas pemrosesannya bisa menimbulkan risiko besar bagi individu, lalu menerapkan pengamanan yang sesuai.
Kendalikan akses pihak ketiga
Organisasi kesehatan sering bergantung pada penyedia teknologi dan mitra layanan dari luar. Kontrak sebaiknya mengatur tanggung jawab keamanan, ketentuan akses, prosedur pemberitahuan insiden, dan kewajiban penanganan data.
Bersiap menghadapi kebocoran data
Organisasi butuh prosedur yang jelas untuk mendeteksi, menginvestigasi, dan merespons kebocoran data pribadi. Rencana penanganan insiden perlu membagi tanggung jawab antara tim keamanan, IT, privasi, hukum, dan manajemen. Dengan begitu, insiden bisa diisolasi dan dilaporkan dengan tepat.
Blueprint keamanan untuk integrasi SATUSEHAT
Integrasi SATUSEHAT yang aman perlu mencakup lima area inti:
- Data: kenali data kesehatan apa saja yang dikumpulkan, dipertukarkan, dan disimpan, lalu kurangi paparan data yang tidak perlu.
- Identitas: amankan pengguna, aplikasi, dan machine identity dengan autentikasi yang kuat dan hak akses minimum.
- API: lindungi antarmuka lewat autentikasi, otorisasi, validasi, enkripsi, rate limiting, dan pemantauan berkelanjutan.
- Visibilitas: simpan log dan jalankan pemantauan di seluruh aliran data dan sistem yang terhubung untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
- Respons: siapkan proses yang jelas untuk menginvestigasi insiden, mengisolasi ancaman, dan memulihkan sistem yang terdampak.
Pendekatan ini membantu organisasi melampaui kepatuhan dasar dan membangun arsitektur keamanan yang sanggup menopang interoperabilitas layanan kesehatan jangka panjang.
Kesalahan keamanan yang sering terjadi dalam integrasi sistem kesehatan
Organisasi dengan program keamanan siber yang kuat pun bisa melewatkan risiko yang muncul dari interoperabilitas.
- Menganggap keamanan API hanya urusan IT. Keamanan API berdampak pada privasi, kepatuhan, dan operasional bisnis. Urusan ini perlu melibatkan tim keamanan, IT, privasi, dan bisnis, bukan diserahkan ke developer saja.
- Memberi akses berlebihan. Hak akses yang luas memperbesar dampak kalau kredensial bocor. Akses perlu dibatasi pada data dan fungsi minimum yang dibutuhkan.
- Mengabaikan risiko pihak ketiga. Organisasi kesehatan bisa saja punya kontrol internal yang kuat, tetapi tetap terekspos lewat vendor atau mitra integrasi yang rentan.
- Tidak memantau aktivitas API. Tanpa logging dan pemantauan yang memadai, organisasi bisa tidak tahu kapan kredensial sudah bocor atau kapan ada akses data yang tidak biasa.
Membangun ekosistem SATUSEHAT yang lebih aman
SATUSEHAT bisa membantu menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih terhubung dan efisien di Indonesia. Namun, interoperabilitas juga berarti keamanan harus menjangkau setiap sistem, API, organisasi, dan pihak ketiga yang terlibat dalam aliran data.
Bagi rumah sakit, perusahaan healthtech, perusahaan farmasi, dan pelaku ekosistem kesehatan lainnya, prioritasnya adalah merancang keamanan sebagai bagian dari integrasi sejak awal.
Zentara membantu organisasi memperkuat keamanan siber di ekosistem digital yang kompleks, mulai dari menilai kerentanan dan menguji API hingga meningkatkan pemantauan dan kesiapan menghadapi insiden.
Data kesehatan harus bisa berpindah saat dibutuhkan. Namun, data itu tidak boleh berpindah tanpa perlindungan yang tepat.
Siap memperkuat keamanan data kesehatan Anda? Hubungi Zentara untuk membahas cara mengamankan API, sistem yang terhubung, dan data yang sensitif di seluruh ekosistem kesehatan.
Pertanyaan yang sering diajukan seputar keamanan SATUSEHAT
- Apa itu SATUSEHAT?
SATUSEHAT adalah platform pertukaran data kesehatan nasional Indonesia. Platform ini dirancang untuk menghubungkan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan para pemangku kepentingan lewat sistem kesehatan digital yang interoperabel.
- Mengapa keamanan SATUSEHAT penting?
SATUSEHAT menghubungkan banyak sistem dan organisasi kesehatan. Kelemahan pada API, kontrol akses, atau sistem yang terhubung bisa memperbesar risiko akses tanpa izin ke informasi kesehatan yang sensitif.
- Bagaimana UU PDP berlaku untuk SATUSEHAT?
Menurut UU PDP, informasi kesehatan termasuk Data Pribadi yang bersifat spesifik. Organisasi yang memproses informasi ini wajib menerapkan pengamanan memadai dan memenuhi kewajiban pelindungan data yang berlaku.
- Bagaimana organisasi bisa mengamankan API SATUSEHAT?
Organisasi perlu memakai autentikasi dan otorisasi yang kuat, mengenkripsi data, memvalidasi request API, membatasi jumlah request, mengelola kredensial dengan aman, dan terus memantau aktivitas API.
- Siapa yang bertanggung jawab mengamankan integrasi SATUSEHAT?
Keamanan adalah tanggung jawab bersama (shared responsibility). Platform menyediakan infrastruktur untuk pertukaran data kesehatan, tetapi setiap organisasi tetap bertanggung jawab mengamankan sistem, kredensial, endpoint, dan aktivitas pemrosesan datanya sendiri.
- Apakah integrasi SATUSEHAT perlu menjalani pengujian keamanan?
Ya. Organisasi perlu menilai dan menguji API, aplikasi, infrastruktur, dan kontrol akses secara rutin untuk menemukan kerentanan sebelum dieksploitasi penyerang.

Ditulis oleh
Francesco Catozzo adalah Head of Compliance & Operations di Zentara dan Lead Auditor ISO 27001/27701. Ia bertanggung jawab atas kepatuhan, audit, dan operasional layanan. Francesco menulis tentang UU PDP, regulasi sektor keuangan, dan pelindungan data di Asia Tenggara.



