Written by: Carmen Tjendra (Marketing Content Specialist)
Reviewed by: Surya Maulana (CISO / Head of Cybersecurity at Zentara)
Audit sudah di depan mata. Direksi mulai bertanya bagaimana data pelanggan dijaga. Sementara itu, tim IT Anda sudah kewalahan dengan alert keamanan yang jumlahnya lebih banyak dari yang sanggup mereka periksa.
Cepat atau lambat, sebagian besar perusahaan membutuhkan bantuan pihak luar untuk urusan keamanan siber. Namun, dengan begitu banyak penyedia di Indonesia yang menawarkan layanan serupa, menemukan yang tepat tidak mudah. Taruhannya juga makin besar sejak Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) berlaku penuh.
Berikut 10 perusahaan cyber security di Indonesia, layanan yang ditawarkan masing-masing, siapa yang paling cocok menggunakannya, serta enam hal yang perlu dicek sebelum Anda menandatangani kontrak.
Perbandingan Perusahaan Cyber Security di Indonesia
Perusahaan | Fokus Layanan | Managed SOC | VAPT | Incident Response | Fokus Industri |
Zentara | Managed Security, VAPT, IR | ✓ | ✓ | ✓ | Enterprise & Regulated Industries (Keuangan, Perbankan, BUMN) |
ITSEC Asia | Cybersecurity & Managed Security | ✓ | ✓ | ✓ | Enterprise Skala Besar (Multisektor & Regional) |
Xynesis | Security Assurance & Testing | - | ✓ | ✓ | Finance, Banking, Government, Telecom, Oil & Gas |
Datacomm | Infrastructure & Managed Security | ✓ | ✓ | - | Enterprise, Telekomunikasi, Militer, Government |
Digiserve | Network & Security | ✓ | ✓ | - | Enterprise, BUMN, Korporasi Multi-Cabang |
CyberArmyID | Crowdsourced Security & Bug Bounty | - | ✓ | - | Enterprise, Technology / Startups, Government |
Protergo | Financial Cybersecurity & SOC | ✓ | ✓ | - | Financial Services (Perbankan, Fintech, Asuransi) |
MII | ICT Integration & Managed Security | ✓ | ✓ | - | Enterprise Lintas Sektor & ICT Integration |
i3 | Enterprise Security & Consulting | ✓ | ✓ | - | Enterprise Komersial & Pengguna Solusi Vendor |
Deltadata Mandiri | SOC & Managed Detection | ✓ | ✓ | ✓ | Mid-Market & Enterprise Menengah-Besar |
10 Perusahaan Cyber Security di Indonesia
1. Zentara
Zentara adalah perusahaan cyber security dan teknologi enterprise yang berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Zentara merancang dan menjalankan platformnya sendiri dan tersertifikasi ISO 27001 untuk operasional keamanannya dan ISO 42001 untuk manajemen AI.
Layanan Managed SOC Zentara beroperasi 24/7 di atas ZX, SIEM yang dikembangkan Zentara sendiri. SLA responsnya 15 menit untuk alert kritis, 1 jam untuk tingkat tinggi, dan 4 jam untuk tingkat menengah. Threat hunting sudah termasuk dalam layanan, bukan biaya tambahan, dan laporan bulanan disajikan dalam dua versi: untuk jajaran eksekutif dan untuk tim teknis.
Layanan VAPT memadukan tools otomatis dengan eksploitasi manual oleh tester bersertifikasi OSCP, OSCE, dan GPEN. Setiap temuan divalidasi sebelum masuk laporan, dan retest setelah perbaikan sudah termasuk dalam cakupan. Layanannya juga diselaraskan dengan ketentuan OJK dan BSSN, serta standar NIST dan PCI DSS.
Zentara juga menangani threat intelligence, incident response dan forensik digital, hingga infrastruktur enterprise. Divisi risetnya, Zentara Labs, menerbitkan riset terapan seperti fine-tuning LLM open-weight untuk kebutuhan SOC.
Cocok untuk: organisasi di sektor teregulasi dan berisiko tinggi yang ingin pengujian, monitoring, dan respons insiden ditangani oleh satu tim yang bertanggung jawab penuh.
2. ITSEC Asia
ITSEC Asia berkantor pusat di Jakarta dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham CYBR. Menurut halaman profilnya, perusahaan ini telah beroperasi selama 16 tahun, memiliki lebih dari 400 karyawan, dan telah menyelesaikan lebih dari 7.000 proyek untuk lebih dari 300 klien aktif.
Layanannya mencakup konsultasi, integrasi solusi keamanan, dan managed security. ITSEC memegang sertifikasi ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 14001, akreditasi CREST, serta pengakuan dari BSSN. Kantornya tersebar di Indonesia, Singapura, Australia, Uni Emirat Arab, dan Mauritius.
Cocok untuk: perusahaan besar yang menginginkan penyedia berstatus perusahaan terbuka dengan jangkauan regional.
3. Xynexis International
Xynexis International menyebut dirinya sebagai pelopor lokal di bidang security assurance di Indonesia. Berbasis di Jakarta Pusat, Xynexis melayani perbankan, operator telekomunikasi, instansi pemerintah, manufaktur, minyak dan gas, serta logistik.
Layanannya meliputi kepatuhan dan sertifikasi, penilaian risiko keamanan TI, penetration testing, penilaian keamanan aplikasi, incident response, dan forensik digital. Xynexis juga menyediakan layanan PCI DSS QSA dan perencanaan keberlangsungan bisnis (BCP).
Cocok untuk: bank dan perusahaan sistem pembayaran yang membutuhkan asesmen PCI DSS sekaligus pengujian dan forensik.
4. Datacomm Diangraha
Datacomm didirikan pada 1990 sebagai reseller perangkat komunikasi data dan kini memiliki lebih dari 450 karyawan. Perusahaan ini mulai masuk ke bidang keamanan TI pada 2008 dan membuka Security Operations Center (SOC) khusus pada 2012.
Saat ini Datacomm dikenal terutama sebagai penyedia managed private cloud. Pada 2023, Datacomm meluncurkan data center kedua sekaligus DTrust, layanan managed security yang berfokus pada cloud. Kliennya berasal dari sektor telekomunikasi, militer, dan pemerintahan.
Cocok untuk: organisasi yang menggunakan private atau hybrid cloud dan ingin hosting serta keamanannya ditangani oleh penyedia yang sama.
5. Digiserve by Telkom Indonesia
Beberapa daftar masih menyebut perusahaan ini dengan nama Telkomtelstra. Namanya resmi berganti menjadi Digiserve pada November 2021 setelah Telkom Indonesia mengakuisisinya melalui TelkomMetra.
Lini Managed Network and Security miliknya mencakup SOC as a Service, digital risk protection, endpoint detection and response (EDR), managed SASE, dan network security convergence. Layanan keamanan ini melengkapi layanan jaringan yang menjadi bisnis utama Digiserve.
Cocok untuk: perusahaan yang sudah menggunakan konektivitas Telkom dan ingin keamanannya dikelola sekaligus bersama jaringan.
6. CyberArmyID
CyberArmyID, yang dioperasikan oleh PT Global Inovasi Siber Indonesia, adalah platform keamanan berbasis crowdsourcing. Organisasi dapat menjalankan program bug bounty publik maupun privat, di mana peneliti keamanan terverifikasi mencari celah dan dibayar untuk setiap temuan yang tervalidasi.
Selain bug bounty, CyberArmyID menawarkan pengujian keamanan otomatis, penetration testing, simulasi phishing dan ransomware, serta threat intelligence melalui produk DarkRadar. Perusahaan ini juga menyelenggarakan pelatihan dan lab CTF. CyberArmyID tersertifikasi ISO/IEC 27001:2022, dan situs webnya mencantumkan BSSN serta PT KAI sebagai klien.
Cocok untuk: perusahaan yang ingin pengujian keamanan secara berkelanjutan dari banyak peneliti sekaligus.
7. Protergo Cyber Security
Protergo (PT Protergo Siber Sekuriti) adalah penyedia keamanan siber berbasis di Jakarta dengan fokus kuat pada sektor jasa keuangan. Layanannya mencakup Security Operations Center, vulnerability assessment, penetration testing, threat intelligence, dan perlindungan endpoint. Perusahaan ini juga telah mengumumkan sertifikasi CREST untuk SOC-nya.
Cocok untuk: perusahaan di bidang keuangan yang ingin layanan monitoring dan pengujian dari perusahaan yang khusus bergerak di bidang keamanan siber.
8. Mitra Integrasi Informatika (MII)
MII didirikan pada 1996 dan merupakan anak usaha PT Metrodata Electronics Tbk. Perusahaan ini menyediakan layanan managed ICT, integrasi sistem, implementasi ERP, dan konsultasi. Keamanan siber menjadi bagian dari portofolio tersebut, dan MII memegang ISO 27001 sejak 2015 sebelum beralih ke ISO 27001:2022 pada 2024.
Cocok untuk: perusahaan yang ingin keamanan siber ditangani sebagai bagian dari program integrasi TI yang lebih besar.
9. Inovasi Informatika Indonesia (i3)
i3 didirikan pada 2015 dan berbasis di Jakarta. Perusahaan ini memiliki lebih dari 70 konsultan yang secara total memegang lebih dari 230 sertifikasi, termasuk CREST, OSCP, dan CISA.
Layanan keamanannya mencakup lima area: cyber defence dan hardening, identity and access control, security operations, assurance dan testing, serta security awareness. i3 bermitra dengan vendor seperti Palo Alto Networks, Trend Micro, dan Netskope.
Cocok untuk: perusahaan yang sedang menerapkan teknologi keamanan dari vendor dan ingin konfigurasi sekaligus pelatihan staf dalam satu proyek.
10. Deltadata Mandiri
Deltadata Mandiri telah beroperasi sejak 2014 dari Jakarta Selatan. Layanan keamanannya disusun dalam empat tahap: access, detect, respond, dan hunt.
Layanannya meliputi operasional SOC 24/7, pengelolaan SIEM dan SOAR, EDR dan XDR, threat hunting oleh red team dan blue team, serta vulnerability management dengan penetration testing setiap kuartal.
Cocok untuk: perusahaan skala menengah yang ingin menyerahkan operasional SOC harian kepada pihak ketiga.
Cara Memilih Partner Cyber Security yang Tepat di Indonesia
Daftar di atas memberi Anda nama-nama penyedia. Enam hal berikut membantu Anda menentukan mana yang sesuai dengan risiko, regulator, dan kebutuhan tim Anda.
1. Pastikan layanannya mendukung kepatuhan UU PDP
UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi berlaku penuh sejak Oktober 2024. Seperti dijelaskan CMS, sanksi denda administratifnya bisa mencapai 2% dari pendapatan tahunan. Undang-undang ini menuntut Anda membuktikan bahwa data pribadi terlindungi, bukan sekadar mengklaimnya.
Tanyakan kepada setiap penyedia dokumen apa saja yang dihasilkan dari pekerjaan mereka, seperti laporan pengujian, log monitoring, dan catatan insiden. Dokumen inilah yang menjadi bukti Anda saat auditor atau regulator memintanya.
2. Sesuaikan dengan regulator industri Anda
Lembaga jasa keuangan diawasi oleh OJK, sementara instansi pemerintah dan penyelenggara infrastruktur informasi vital berkoordinasi dengan BSSN. Masing-masing punya ketentuan kontrol dan format pelaporan sendiri. Penyedia yang sudah memetakan temuannya ke ketentuan tersebut akan menghemat waktu tim Anda setiap kali menjelang audit. Mintalah contoh laporan untuk melihat cara kerja mereka.
3. Cek sertifikasi di level perusahaan
Sertifikasi individu seperti OSCP atau CEH menunjukkan bahwa seorang tester punya keahlian. Sertifikasi ISO 27001 di level perusahaan menunjukkan bahwa penyedia menjalankan operasionalnya dengan kontrol yang sudah diaudit, dan ini penting karena mereka akan menangani log serta data Anda.
Akreditasi CREST memberi jaminan tambahan untuk pekerjaan penetration testing dan SOC. Minta lihat sertifikat beserta ruang lingkupnya, bukan hanya logonya.
4. Pastikan waktu respons tertulis di kontrak
"Respons cepat" bukanlah janji yang bisa Anda tagih. SLA yang jelas menyebutkan berapa menit waktu yang dimiliki penyedia untuk merespons di setiap tingkat keparahan, misalnya kritis, tinggi, dan menengah. Pastikan angka tersebut tercantum di kontrak, termasuk konsekuensinya jika tidak terpenuhi.
5. Tanyakan cara mereka memvalidasi temuan
Scanner menghasilkan daftar potensi kelemahan, dan banyak di antaranya ternyata false positive. Penetration testing yang benar melibatkan orang yang memeriksa setiap temuan dan membuktikan apakah celah tersebut memang bisa dieksploitasi. Cek juga apakah retest setelah perbaikan sudah termasuk, karena hanya dengan cara itu Anda bisa memastikan celahnya benar-benar tertutup.
6. Ketahui siapa pemilik tools-nya
Sebagian penyedia membangun dan menjalankan platformnya sendiri, sementara yang lain menjual ulang tools pihak ketiga. Tanyakan teknologi apa yang dikembangkan sendiri dan mana yang berasal dari vendor pihak ketiga. Informasi ini membantu Anda memahami arsitektur layanan, ketergantungan teknologi, serta proses integrasi dan eskalasi yang digunakan.
Memilih Partner yang Sesuai dengan Cara Kerja Anda
Setiap perusahaan dalam daftar ini punya rekam jejak nyata. Pilihan yang tepat bergantung pada sektor industri Anda, regulator yang mengawasi, dan seberapa banyak aspek keamanan yang ingin Anda kelola sendiri. Enam hal di atas bisa menjadi tolok ukur yang adil untuk menilai setiap penyedia dengan standar yang sama.
Di Zentara, kami membangun layanan kami di atas keenam hal tersebut. Managed SOC kami berjalan di atas ZX, SIEM yang kami rancang dan operasikan sendiri, dengan waktu respons per tingkat keparahan yang tercantum di kontrak. Setiap temuan VAPT divalidasi oleh tester bersertifikasi sebelum masuk ke laporan Anda, dan retest selalu menjadi bagian dari setiap proyek.
Sebagian besar tim tidak memulai dari nol. Ada yang membutuhkan second opinion atas laporan penetration testing, ada juga yang butuh monitoring 24 jam menjelang pemeriksaan OJK. Apa pun kebutuhannya, diskusi kita dimulai dari apa yang sudah Anda miliki saat ini.
Jika Anda ingin melihat bagaimana pendekatan ini bisa diterapkan di perusahaan Anda, pelajari layanan cyber security Zentara atau hubungi tim kami.
Frequently Asked Questions
1. Apa itu perusahaan cyber security?
Perusahaan cyber security adalah penyedia layanan dan teknologi profesional yang membantu organisasi melindungi sistem, jaringan, aplikasi, dan data digital mereka dari berbagai ancaman siber, peretasan, serta kebocoran data.
2. Apa saja layanan perusahaan cyber security?
Layanan utama perusahaan cyber security mencakup pemantauan ancaman 24/7 (Managed SOC), pengujian celah keamanan (VAPT/penetration testing), penanganan insiden dan forensik digital, konsultasi kepatuhan audit (ISO 27001, OJK, BSSN), serta pelatihan kesadaran keamanan siber bagi karyawan.
3. Berapa biaya layanan cyber security di Indonesia?
Biaya layanan cyber security sangat bervariasi bergantung pada jenis layanan dan skala infrastruktur perusahaan, di mana VAPT umumnya dihitung per jumlah target/aplikasi, Managed SOC berbasis biaya berlangganan berkala sesuai kapasitas data/endpoint, sedangkan konsultasi keamanan menggunakan skema berbasis proyek.
4. Apa perbedaan Managed SOC dan penetration testing?
Managed SOC berfokus pada pemantauan dan deteksi ancaman secara terus-menerus dan real-time selama 24/7, sedangkan penetration testing (VAPT) adalah pengujian simulasi serangan secara berkala (point-in-time) untuk menemukan celah keamanan sebelum dieksploitasi oleh pihak luar.
5. Bagaimana memilih perusahaan cyber security untuk perusahaan?
Pilihlah vendor yang mendukung kepatuhan regulasi industri Anda (seperti UU PDP, OJK, atau BSSN), memiliki sertifikasi di tingkat perusahaan seperti ISO 27001 atau CREST, menyajikan SLA waktu respons yang terikat kontrak, serta menyediakan proses validasi temuan manual beserta retest.
6. Apakah perusahaan yang menyimpan data pelanggan wajib memiliki perlindungan cybersecurity?
Ya, berdasarkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), setiap perusahaan yang mengelola data pelanggan wajib menjamin keamanan data tersebut, dengan risiko denda administratif hingga 2% dari pendapatan tahunan serta sanksi operasional jika terjadi kebocoran data.
Written by
Carmen serves as a Marketing Content Specialist at Zentara, developing content and SEO strategies across cybersecurity and technology topics. She has experience in keyword research, SERP and competitor analysis, content planning, and creating data-driven content that supports brand visibility and audience engagement.



