Kami akan hadir di NCSC 2026. Lihat detailnya
ZENTARA

Immutable Backup di Era Multi-Cloud: Pelajaran dari Serangan Ransomware PDNS

Immutable backup adalah backup yang tak bisa diubah atau dihapus, bahkan oleh admin. Begini pelajaran dari serangan PDNS untuk pemulihan bencana di cloud.

7 menit baca
Immutable Backup di Era Multi-Cloud: Pelajaran dari Serangan Ransomware PDNS

Immutable Backup di Era Multi-Cloud: Pelajaran dari Serangan Ransomware PDNS

Saat Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) Indonesia diserang ransomware pada Juni 2024, hanya 2% datanya yang punya backup. Ketika penyerang mengunci sistemnya, hampir tidak ada backup untuk memulihkannya.

Serangan Brain Cipher terhadap PDNS mengganggu 282 layanan pemerintah, dari pemeriksaan imigrasi sampai pendaftaran siswa. Karena hampir tidak ada backup, pemulihan banyak layanan jadi sulit dan lama. Sejak itu, kasus ini menjadi rujukan di balik dorongan Indonesia untuk membangun infrastruktur data nasional yang lebih tangguh.

Pelajaran ini berlaku jauh di luar sistem pemerintah. Setiap perusahaan di Indonesia yang menjalankan sistemnya di beberapa penyedia cloud menghadapi risiko dasar yang sama, dan solusinya pun sama. Keamanan cloud yang ketat kini bukan sekadar target tim IT, tetapi kebutuhan inti bisnis.

Artikel ini membahas kejadiannya, perubahan di lanskap cloud Indonesia sesudahnya, dan pertahanan yang seharusnya bisa mengubah hasil: immutable backup dan cross-region failover.

Risiko ransomware di lingkungan multi-cloud

Multi-cloud adalah cara menjalankan infrastruktur di lebih dari satu penyedia cloud. Alasannya sering untuk menghindari ketergantungan pada satu vendor atau untuk memenuhi aturan penempatan data. Pola ini makin umum di Indonesia, karena perusahaan membagi sistemnya antara penyedia lokal dan internasional.

Risikonya, setiap lingkungan cloud tambahan adalah satu tempat lagi bagi ransomware untuk menyebar. Itu juga berarti satu set backup dan kontrol akses lagi yang semuanya harus sama kuat. Mengelola keamanan multi-cloud dengan baik butuh visibilitas penuh atas semua lingkungan. Satu titik lemah, misalnya satu lingkungan cloud dengan backup yang terhubung dan tidak terlindungi, bisa meruntuhkan perlindungan ransomware yang dibangun di tempat lain.

Pelajaran dari serangan ransomware PDNS

Insiden PDNS layak dicermati, karena kegagalannya sebenarnya bukan soal ransomware itu sendiri. Masalahnya ada pada apa yang terjadi sesudahnya.

Penyerang meminta tebusan USD 8 juta dan pemerintah menolak membayar. Belakangan, pejabat mengonfirmasi bahwa hanya 2% data terdampak yang punya backup, menurut analisis Stratsea. Beberapa minggu kemudian, baru 86 dari 282 layanan yang terganggu sudah pulih, dan penyerang akhirnya merilis kunci dekripsi secara gratis.

Itu bukan rencana pemulihan. Itu keberuntungan. Lingkungan dengan backup yang benar tidak bergantung pada niat baik penyerang untuk bisa online kembali.

Indonesia menuju infrastruktur cloud yang berdaulat dan tangguh

Respons atas serangan PDNS ikut membentuk kebijakan cloud Indonesia sejak saat itu. Pemerintah mempercepat pembangunan Pusat Data Nasional (PDN) di Cikarang, pusat data permanen yang lebih aman untuk menggantikan PDNS. Proyek ini diarahkan untuk memperkuat kedaulatan data setelah serangan itu.

Bagi perusahaan, arahnya sudah jelas, bahkan di luar sistem pemerintah. Penempatan data, disiplin backup, dan perencanaan kelangsungan bisnis tidak lagi dianggap sekadar pelengkap. Semua itu kini makin menjadi standar dasar bagi setiap organisasi yang mengelola data warga Indonesia atau data layanan publik. Praktik keamanan cloud yang kuat jadi kunci untuk memenuhi ekspektasi regulasi dan operasional ini.

Aturan 3-2-1-1-0 untuk backup yang tahan ransomware

Aturan backup 3-2-1 yang klasik berbunyi: tiga salinan data, di dua jenis media penyimpanan, dengan satu salinan di lokasi terpisah. Aturan ini dibuat untuk kerusakan hardware dan bencana alam, bukan untuk ransomware. Ransomware aktif memburu dan menghancurkan backup sebelum mengenkripsi data produksi.

Karena itu standarnya berkembang menjadi 3-2-1-1-0. Angka “1” tambahan mewajibkan minimal satu salinan backup bersifat immutable atau air-gapped, sehingga tak tersentuh bahkan oleh penyerang yang memegang kredensial admin. Angka “0” berarti nol backup yang belum diverifikasi: setiap salinan benar-benar diuji pemulihannya, bukan sekadar dianggap berfungsi.

Ini bukan perubahan kecil. Laporan Ransomware Trends 2025 dari Veeam menemukan bahwa pada 89% organisasi, repositori backup secara khusus diincar penyerang. Backup yang masih bisa dijangkau dan dihapus penyerang sebenarnya bukan backup, hanya sasaran lain.

Cara kerja immutable backup

Immutable backup tidak bisa diubah, dienkripsi, atau dihapus selama periode retensi tertentu, siapa pun pelakunya, termasuk ransomware atau orang dengan akses administrator penuh. Biasanya ini diterapkan lewat kebijakan Object Lock atau WORM (write once, read many) langsung di lapisan penyimpanan, pada layanan seperti AWS S3 atau Azure Blob.

Perbedaan krusial: immutability yang diterapkan di level penyimpanan tetap bertahan meski penyerang membobol software backup atau akun admin Anda. Kunci yang hanya ada di level aplikasi sering bisa dilewati dengan kredensial yang tepat, sehingga seluruh tujuannya jadi sia-sia.

Cross-region failover untuk pemulihan lebih cepat

Cross-region failover berarti punya salinan infrastruktur yang siap pakai di lokasi geografis terpisah. Jadi, kalau lingkungan utama Anda tumbang, operasional bisa pindah ke sana, entah karena ransomware, gangguan, atau bencana. Ini fondasi strategi pemulihan bencana (disaster recovery) modern.

Untuk arsitektur multi-cloud, ini berarti pemulihan bencana cloud harus benar-benar terpisah, bukan sekadar folder lain di akun cloud yang sama. Dalam satu analisis industri disebutkan, backup data cloud di dalam cloud yang sama itu duplikasi, bukan isolasi. Kalau penyerang yang membobol lingkungan utama Anda juga bisa menjangkau “backup” itu, berarti sejak awal backup itu tidak pernah benar-benar terpisah.

Kasus PDNS menunjukkan dengan jelas mengapa ini penting. Dengan failover yang berfungsi, layanan bisa dipindahkan ke lingkungan yang bersih dalam hitungan jam, bukan berminggu-minggu, dan tanpa bergantung pada kunci dekripsi dari penyerang.

Memperkuat lingkungan multi-cloud Anda

Agar semua ini berjalan benar, dibutuhkan lebih dari satu tool atau pengaturan. Untuk meningkatkan postur keamanan cloud di seluruh lingkungan multi-cloud, ada beberapa praktik inti:

  • Aktifkan immutability di lapisan penyimpanan, bukan hanya di lapisan aplikasi. Cara ini menjaga backup tetap aman, bahkan jika penyerang mendapat akses admin ke software backup Anda.
  • Simpan minimal satu salinan di cloud atau region yang benar-benar terpisah. Bukan folder kedua di akun yang sama, melainkan pemisahan geografis dan administratif yang nyata.
  • Uji restore dengan jadwal yang jelas. Uji level file setiap bulan, pemulihan level aplikasi setiap kuartal, dan minimal satu uji failover seluruh lingkungan setiap tahun. Backup yang belum pernah diuji hanyalah tebakan, bukan rencana.
  • Terapkan kontrol akses yang konsisten di setiap cloud yang Anda pakai. Penyerang mencari lingkungan yang paling lemah lebih dulu. Satu akun cloud yang kurang terlindungi melemahkan semua yang lain.
  • Dokumentasikan urutan pemulihan. Aturan 3-2-1-1-0 mengatur cara menyimpan data, bukan cara menghidupkan kembali layanan dengan urutan yang benar.

Ketahanan tidak berhenti di strategi backup

Strategi backup dan failover yang kuat menjawab pertanyaan “bisakah data dipulihkan”, tetapi tidak menjawab “seberapa cepat serangan disadari”. Keduanya masalah yang berbeda. Masalah kedua sering menentukan seberapa besar kerusakan yang terjadi sebelum pemulihan dimulai.

Di sinilah pemantauan berkelanjutan berperan. Dengan mengawasi tanda awal serangan ransomware sebelum enkripsi dimulai, Anda mendapat waktu yang tidak bisa diberikan backup saja. Tandanya antara lain pola akses yang tidak biasa dan perpindahan data yang tak terduga. Keamanan cloud yang menyeluruh butuh deteksi ancaman cepat dan mekanisme pemulihan tangguh yang bekerja bersamaan.

Zentara menyediakan lapisan itu di lingkungan multi-cloud. Analis bersertifikat memantau sepanjang waktu, dengan SLA respons 15 menit untuk insiden kritis yang perlu segera ditangani.

Mengamankan arsitektur multi-cloud dari ancaman yang terus berkembang butuh tata kelola yang proaktif. Dengan immutable backup dan jalur failover yang sudah diverifikasi, organisasi bisa menjaga operasional tetap berjalan, bahkan dalam skenario serangan berat. Investasi pada keamanan cloud yang kuat adalah cara yang efektif untuk melindungi aset digital dan menjaga kepercayaan publik.

Hubungi Zentara untuk melihat seberapa kuat rencana pemulihan Anda saat ini.

Pertanyaan yang sering diajukan

  1. Apa bedanya aturan backup 3-2-1 dan 3-2-1-1-0?

Aturan 3-2-1 melindungi dari kerusakan hardware dan bencana: tiga salinan, dua jenis media penyimpanan, satu di lokasi terpisah. Aturan 3-2-1-1-0 menambahkan satu salinan immutable atau air-gapped dan uji restore wajib, khusus untuk menangkal ransomware yang mengincar backup.

  1. Kalau sudah punya backup, mengapa perusahaan masih butuh cross-region failover?

Backup berarti data Anda bisa dipulihkan, tetapi memulihkan dari nol bisa makan waktu berhari-hari. Dengan cross-region failover, operasional bisa berlanjut dari lingkungan terpisah hampir seketika. Ini penting karena setiap jam downtime ada biayanya.

  1. Apakah multi-cloud lebih aman daripada satu penyedia cloud?

Tidak otomatis. Multi-cloud bisa mengurangi ketergantungan pada satu vendor, tetapi juga berarti lebih banyak lingkungan yang harus diamankan secara konsisten. Satu titik lemah di salah satu cloud bisa meruntuhkan perlindungan yang dibangun di tempat lain.

  1. Apa yang terjadi pada Pusat Data Nasional Indonesia setelah serangan ransomware?

Serangan Brain Cipher pada 2024 terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) memperlihatkan bahwa backup hampir tidak ada sama sekali. Sebagai respons, Indonesia mempercepat pembangunan Pusat Data Nasional (PDN) baru yang permanen, dengan kedaulatan dan ketahanan yang lebih kuat.

Surya Maulana

Ditulis oleh

Surya adalah Head of Cyber Security sekaligus CISO Zentara. Ia membawahi operasional SOC dan red team, serta pernah memimpin proyek penetration testing untuk pemerintah dan perusahaan. Ia juga mengembangkan platform intelijen berbasis OSINT untuk mendukung investigasi dan inisiatif keamanan strategis.

Tulisan seperti ini, sebulan sekali.

Yang diamati tim kami dari aktivitas ancaman dan perkembangan regulasi di Indonesia, ditulis langsung oleh tim yang menjalankan SOC.

Alamat email Anda hanya kami pakai untuk mengirim yang Anda minta. Daftar kami tidak dijual atau dibagikan. Kebijakan Privasi.

Ada pertanyaan keamanan setelah membaca ini?

Engineer kami menjawab langsung. Tidak perlu sesi kualifikasi dulu.