Jakarta · 12 February 2026
Zentara Soroti Dinamika Ancaman Siber dan Pentingnya Ketahanan Digital Nasional
CEO Zentara Technologies, Regal Rauniyar Star, ungkap strategi SOC dan simulasi red team-blue team untuk memperkuat pertahanan siber nasional serta optimisme tata kelola keamanan data Indonesia.
Perusahaan keamanan siber dan intelijen siber nasional, Zentara Technologies, menilai lanskap ancaman digital di Indonesia kian dinamis dan menuntut kesiapan pertahanan yang lebih adaptif. Dalam paparan di kantor barunya yang berlokasi di Baic Tower, Tangerang Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
CEO Zentara Technologies Regal Rauniyar Star menegaskan, fokus utama pengamanan bukan semata melacak asal serangan, melainkan memperkuat sistem agar tahan terhadap berbagai potensi ancaman.
“Secara teknis kita bisa melacak alamat IP untuk mengetahui asal koneksi. Namun itu tidak selalu mencerminkan lokasi sebenarnya karena pelaku kerap menggunakan proxy atau server perantara,” ujar Regal.
Ia menjelaskan, serangan siber dapat dipetakan dari negara ke negara, bahkan hingga tingkat kota. Kendati demikian, informasi tersebut bukan tujuan akhir dari sistem pemantauan. “Serangan bisa terjadi pada siapa saja. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersiap dan mengelolanya,” katanya.
Menurut Regal, karakter ancaman siber sangat dinamis. Pola serangan dapat berubah setiap hari dan datang dari berbagai wilayah. Karena itu, penguatan sistem pertahanan menjadi kunci utama. Dalam konteks ini, peran Security Operations Center (SOC) menjadi vital untuk memastikan respons cepat dan terukur terhadap insiden keamanan.
Ia menambahkan, dalam praktiknya, mempertahankan sistem jauh lebih sulit dibandingkan melakukan serangan. Untuk menguji ketahanan infrastruktur digital, Zentara menerapkan simulasi serangan internal. Tim yang berperan sebagai penyerang (red team) akan mencoba menemukan celah dalam sistem, sementara tim pertahanan (blue team) bertugas mengantisipasi dan menutup potensi kerentanan.
“Tujuannya bukan untuk merusak, melainkan menemukan celah sebelum dimanfaatkan pihak luar,” ujar Regal.
Selain membahas tren ancaman, Zentara juga menyoroti pentingnya solusi keamanan siber berbasis keahlian lokal dengan standar global guna mendukung ketahanan ekosistem digital nasional. Regal menilai, Indonesia telah memiliki kerangka regulasi perlindungan data yang secara teori cukup kuat dan selaras dengan standar internasional seperti General Data Protection Regulation (GDPR).
“Tantangannya ada pada implementasi, apalagi dalam skala nasional di negara sebesar Indonesia,” katanya.
Meski demikian, ia mengapresiasi kapasitas teknis para pemangku kepentingan di Indonesia yang dinilai semakin matang, termasuk dalam memahami isu-isu terkini seperti kecerdasan buatan (AI). Dengan dukungan anggaran dan penguatan kelembagaan, menurut dia, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan tata kelola keamanan siber yang kuat di kawasan.
Dalam kesempatan tersebut, Zentara juga mengundang perwakilan media untuk mengikuti tur kantor baru serta diskusi interaktif mengenai perkembangan industri keamanan siber di Tanah Air.
Regal menekankan, meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya perlindungan data merupakan sinyal positif bagi masa depan transformasi digital Indonesia. “Keamanan data kini mulai menjadi prioritas, dan itu perkembangan yang baik bagi ekosistem digital nasional,” ujarnya.
About Zentara
Zentara Technologies (PT Mars Bumi Indonesia) builds and operates AI-native cyber defence for Indonesian institutions — a sovereign alternative to imported security platforms, engineered in Jakarta and run from a Jakarta SOC.