ZENTARA
← Press releases

Jakarta · 13 May 2026

Laporan Ungkap Risiko Keamanan Siber Baru Seiring Meningkatnya Penggunaan AI Otonom di Indonesia

Zentara Labs rilis laporan SAFE-AGENT yang soroti kesenjangan antara adopsi AI otonom dan kesiapan tata kelola keamanan siber di perusahaan Indonesia.

  • Perusahaan menghadapi kesenjangan yang semakin besar antara adopsi AI dan kesiapan keamanan siber
  • AI otonom menghadirkan risiko baru yang belum sepenuhnya dapat diantisipasi oleh sistem keamanan konvensional

JAKARTA, Indonesia, 13 Mei 2026 — Zentara Labs merilis laporan terbaru yang membahas munculnya risiko keamanan siber dan tata kelola baru akibat berkembangnya sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu bekerja secara otonom di dalam perusahaan. Seiring meningkatnya penggunaan AI, perusahaan di Indonesia mulai mengeksplorasi sistem yang dapat mengambil tindakan secara mandiri di lingkungan digital. Hal ini memunculkan tantangan baru terkait pengawasan, keamanan, dan kontrol.

“AI kini mulai beroperasi dengan tingkat independensi yang belum pernah diantisipasi oleh pendekatan keamanan tradisional,” ujar Regal Rauniyar Star, Co-Founder dan CEO Zentara. “Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara cara sistem AI bekerja dengan kemampuan perusahaan dalam memantau serta mengelola risikonya.”

Laporan berjudul “SAFE-AGENT: An Agentic AI Security Framework for the Enterprise and Public Sector” tersebut menyoroti bahwa meskipun teknologi AI semakin banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan otomatisasi proses kerja, banyak perusahaan kemungkinan belum memiliki perlindungan dan tata kelola yang memadai untuk mengelola risikonya secara efektif.

President Zentara, Darian Kuswanto, menambahkan bahwa seiring meningkatnya adopsi AI, fokus perusahaan perlu mulai bergeser dari sekadar melihat kemampuan AI menjadi bagaimana teknologi tersebut dikelola dengan baik. “Membangun pemahaman mengenai tata kelola AI sejak dini akan menjadi langkah penting, tidak hanya untuk mengelola risiko, tetapi juga menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor seperti keuangan, layanan pelanggan, dan layanan publik, insiden keamanan siber masih menjadi tantangan yang terus berlanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, tingginya anomali lalu lintas digital, upaya serangan siber, serta kasus kebocoran data telah memengaruhi institusi publik maupun swasta di Indonesia. Para pakar keamanan juga mengamati meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber, sehingga serangan menjadi lebih cepat dan lebih sulit dideteksi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai bagaimana perusahaan dapat mempertahankan kontrol terhadap sistem yang dirancang untuk beroperasi secara mandiri.

Perkembangan terbaru juga menyoroti tantangan tata kelola yang lebih luas. Diskusi terkait penyalahgunaan AI, termasuk penyebaran konten berbahaya atau menyesatkan yang dihasilkan oleh AI, mendorong meningkatnya perhatian dari regulator dan publik, sekaligus menegaskan perlunya pengawasan yang lebih jelas seiring pertumbuhan adopsi teknologi ini.

Secara global, sejumlah kasus awal terkait insiden siber berbasis AI serta munculnya panduan keamanan baru dari berbagai lembaga industri menunjukkan bahwa risiko ini mulai dipandang serius. Namun, implementasi praktis di tingkat perusahaan masih belum merata. Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, laju adopsi AI terus melampaui perkembangan praktik tata kelola dan keamanan, sehingga menciptakan apa yang disebut dalam laporan sebagai “deployment gap” atau kesenjangan implementasi yang semakin besar.

Laporan ini juga menguraikan sejumlah pertimbangan penting bagi perusahaan dan pembuat kebijakan, termasuk pentingnya mendefinisikan akses sistem secara jelas, meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas berbasis AI, menetapkan batasan untuk tindakan berisiko tinggi, serta memastikan adanya akuntabilitas dalam penggunaan sistem tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut atau mengakses laporan lengkap, silakan kunjungi: https://bit.ly/4d6DZLN 

About Zentara

Zentara Technologies (PT Mars Bumi Indonesia) builds and operates AI-native cyber defence for Indonesian institutions — a sovereign alternative to imported security platforms, engineered in Jakarta and run from a Jakarta SOC.

Media contact

[email protected]