ZENTARA
← Press releases

Jakarta · 17 June 2026

CEO Zentara Technologies, Regal Rauniyar Star, Paparkan Strategi SOC dan Simulasi Red Team-Blue Team untuk Perkuat Pertahanan Siber serta Tata Kelola Data Indonesia.

Zentara Technologies soroti fraud gift card sebagai kebocoran finansial tersembunyi yang mengancam ritel dan platform loyalitas di tengah pesatnya ekonomi digital Indonesia.

Sekilas info tentang Indonesia:

  • Ekonomi digital Asia Tenggara mencapai US$263 miliar dalam GMV (Google-Temasek-Bain 2024).
  • Indonesia adalah pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara, dengan adopsi pembayaran berbasis mobile yang terus tumbuh pesat.
  • Fraud gift card kerap menyasar infrastruktur kepercayaan yang menopang dompet digital dan program loyalitas.
  • Riset Zentara mengidentifikasi card draining, fraud identitas sintetis, dan rekayasa sosial berbasis AI sebagai ancaman yang paling cepat berkembang terhadap produk bernilai tersimpan.

JAKARTA, 17 Juni, 2026 — Seiring meluasnya sektor pembayaran digital dan e-commerce Indonesia, manipulasi gift card diam-diam menggerus pendapatan peritel, bank, dan platform loyalitas, seringkali tanpa terdeteksi. Zentara Technologies, perusahaan keamanan siber yang berkantor di Jakarta dan Singapura, menyoroti persoalan ini di Konferensi Incentive Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Dalam forum tersebut, Zentara memaparkan bagaimana skema-skema canggih sedang mengeksploitasi produk bernilai tersimpan secara global, dengan Asia Tenggara sebagai salah satu sasaran utamanya.

“Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal,” kata Regal Star, CEO Zentara, dalam konferensi tersebut. “Banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar. Padahal, fraud seperti pada gift card justru sulit dideteksi karena transaksinya terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari. Sistemnya tidak dibobol, sistem itu justru digunakan untuk melawan bisnis itu sendiri.”

Industri gift card Indonesia sedang tumbuh dengan cepat, didorong oleh meningkatnya adopsi hadiah digital dan program loyalitas korporat. Pada 2025, pasar ini mencapai USD 2,37 miliar dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 9,1%, hingga mencapai sekitar USD 3,68 miliar pada 2030, berdasarkan Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook. Para pemain industri kini menawarkan kartu fisik maupun digital untuk membantu bisnis memperkuat loyalitas pelanggan dan memotivasi karyawan.

Fraud gift card kini semakin beroperasi di dalam proses yang sudah ada, bukan dengan cara membobol sistem. Para pelaku mengeksploitasi seluruh siklus hidup gift card, dari produksi dan aktivasi hingga penukaran, untuk melewati prosedur pembayaran yang sah. Misalnya, mereka bisa mengambil detail kartu dari yang dipajang di rak ritel, lalu mengakses dananya begitu kartu diaktivasi. Pembeli kartu yang sudah dikompromikan sering kali mendapati bahwa dana tidak sampai ke tangan yang dituju, sementara peritel, bank, dan pembeli tidak merasakan ada yang janggal. Kerugian biasanya baru terlihat belakangan, lewat keluhan pelanggan atau anomali data yang terlewatkan.

Ekonomi Digital Tumbuh, Fraud pun Berevolusi

Pasar gift card global bernilai sekitar US$1,2 triliun per tahun. Seiring meningkatnya adopsi gift card, voucher digital, dan reward loyalitas, organisasi menghadapi tekanan yang semakin besar untuk melindungi nilai pelanggan dan menjaga kepercayaan pada sistem pembayaran mereka.

Sebagian besar fraud gift card tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan, sehingga kerugian pendapatan sulit diidentifikasi, terutama seiring pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara. Menurut laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google-Temasek-Bain, ekonomi digital kawasan ini mencapai US$263 miliar dalam GMV pada 2024, mencerminkan pertumbuhan yang konsisten dalam perdagangan dan pembayaran digital.

Riset Zentara menyoroti tiga metode fraud global yang sedang berkembang dan menyasar produk bernilai tersimpan serta sistem pembayaran: skema card draining yang mengeksploitasi informasi kartu sebelum aktivasi, fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan memonetisasi nilai tersimpan, serta serangan rekayasa sosial berbasis AI yang menyasar karyawan yang menerbitkan, mengganti, atau mengelola gift card.

“Alih-alih hanya berfokus pada kerentanan teknologi, fraud modern semakin mengeksploitasi proses bisnis dan perilaku manusia,” ujar Regal. “Seiring AI menekan biaya operasional penipuan, organisasi perlu mengantisipasi bahwa para pelaku ancaman akan terus menyasar jalur yang paling efisien untuk menghasilkan keuntungan finansial.”

Darian Kuswanto, President dan Co-Founder Zentara Technologies, mencatat bahwa banyak organisasi masih mengandalkan kerangka usang untuk menilai eksposur fraud mereka. “Salah kaprah yang umum adalah menyamakan keamanan dengan tidak adanya pelanggaran,” jelas Darian. “Kasus fraud paling signifikan justru sering kali lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah. Tanpa pemantauan aset yang granular, seperti melacak gift card dari aktivasi awal hingga penukaran akhir, institusi berisiko menanggung kerugian finansial yang besar namun tidak terdeteksi.”

Zentara recommends that companies:

  • Pantau pola penukaran. Anomali dalam waktu, lokasi, atau volume dapat menjadi peringatan dini.
  • Lacak kecepatan dari aktivasi hingga penukaran. Konversi yang terlampau cepat bisa mengindikasikan proses pencairan otomatis.
  • Latih staf untuk mengenali rekayasa sosial berbasis AI. Karyawan yang menerbitkan, mengganti, atau mengelola gift card kini berada di garis terdepan pertahanan terhadap fraud.

“Pertanyaannya bukan hanya soal apakah sistem sudah aman,” simpul Regal. “Ini juga tentang memahami secara mendalam seperti apa aktivitas normal itukarena di situlah kebocoran tersembunyi sering kali bersembunyi.”

---

Tentang Zentara

ZENTARA adalah perusahaan teknologi keamanan siber dan intelijen yang beroperasi di persimpangan antara keamanan, inovasi, dan sistem pertahanan yang sangat penting. Kapabilitas end-to-end Zentara mencakup perlindungan ancaman nasional, analitik berbantuan AI, platform intelijen milik sendiri, forensik digital, dan alat pertahanan otonom, memungkinkan organisasi bergerak lebih cepat, merespons lebih cerdas, dan tetap aman.

Website: www.zentara.co 

Kontak Media:

Dyan Widya Anggrainy | +62 852 1699 2585 | [email protected] 

About Zentara

Zentara Technologies (PT Mars Bumi Indonesia) builds and operates AI-native cyber defence for Indonesian institutions — a sovereign alternative to imported security platforms, engineered in Jakarta and run from a Jakarta SOC.

Media contact

[email protected]